Kurikulum Merdeka: Oasis di Tengah Padang Pasir



    Seringkali terdengar ucapan dari siswa “sekolahku penjaraku”. Bahkan, seorang penulis Inggris, George Bernard Shaw, pernah menulis bahwa sekolah itu lebih buruk daripada penjara. Sekolah menjadi penjara terselubung untuk mendidik seorang siswa menjadi siswa yang patuh tanpa reserve kepada penguasa. Belajar di kelas menjadi sesuatu yang membosankan, di mana seorang guru hanya ceramah dan siswa mendengarkan. Sistem pendidikan macam ini bagaikan menuangkan air ke dalam cangkir. Siswa dianggap sebagai sebuah cangkir kosong yang akan diisi air sebagai simbol pengetahuan oleh guru. Sekolah menjadi tempat yang menjemukan. Tidak ada saluran rekreasi kecuali apa yang diperbolehkan oleh para guru.
    Dalam konteks ini, penjara adalah simbol dari pembatasan, kontrol berlebihan, dan kurangnya kebebasan dalam sistem pendidikan. Salah satu penyebab utama penjara berkedok sekolah adalah kurikulum yang tidak memadai. Seringkali, kurikulum yang sangat padat dan fokus pada penilaian membuat siswa merasa terkekang. Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk eksplorasi atau pengembangan minat dan bakatnya sendiri.
    Setelah lama berkutat dengan permasalahan tersebut, hadir sebuah kurikulum yang menjawab kegelisahan setiap guru dan siswa, yakni kurikulum merdeka. Bagaikan oasis di tengah padang pasir. Kurikulum yang mampu mengubah paradigma pendidikan. Kurikulum yang mampu memerdekakan guru dan siswa dari keterbelengguan yang selama ini membatasi mereka. Belajar yang selama ini selalu berpusat pada guru, diarahkan untuk berpusat pada siswaMenjadikan siswa sebagai partner dalam berdiskusi di dalam kelas, menghargai pendapat mereka, mendorong ide-ide mereka, membangun suasana belajar yang menyenangkan dan membahagiakan. Mengubah belajar yang membosankan, mengajak mereka berjalan ke luar ruang kelas, mengamati alam, mengamati dunia yang sebenarnya. Memproyeksikan ide-ide mereka menjadi suatu gerakan yang membangun kepercayaan diri mereka. Guru kini bukanlah seseorang yang Maha Tahu. Tugas guru kini adalah menjadi fasilitator bagi perkembangan siswa. 
Guru bukan lagi subjek dalam pendidikan, pun demikian, siswa bukan lagi objek dalam pendidikan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengedepankan sistem dialogis antara dua subjek, yaitu guru dan siswa.

     Dengan demikian, proses pembelajaran akan lebih bermakna. Bukan lagi tentang angka dalam lembar kertas putih, namun lebih dari itu, yakni proses pengembangan potensi di dalam diri siswa sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Dengan begitu, siswa akan merasa lebih dihargai, guru pun tidak lagi terbebani dengan nilai semata. Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa kebermaknaan proses pembelajaran ini mampu tercipta dari guru yang berjiwa merdeka. Merdeka dari semua tuntutan, merdeka dari ekspektasinya tentang tujuan pembelajaran, dan merdeka dalam melihat semua sudut pandang. Dengan begitu, guru akan mampu melihat siswa sebagai pribadi yang unik. Sejatinya, setiap individunya menyimpan beragam kekuatan yang unik dan mungkin tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Merdekalah dunia pendidikan!

-Annisa Nurrahmawati-



Komentar